Friday, May 30, 2014

Foto Berwarna Hiburan di Masa Perang


 Prajurit Heer Jerman menikmati eskrim ditengah teriknya cuaca musim panas di dekat Kanal Charleroi–Brussels–Willebroeck (Belgia) tanggal 17 Mei 1940. Pada hari itu Brussels - ibukota Belgia - jatuh ke tangan pasukan Wehrmacht setelah Panglima BEF (British Expeditionary Force), Lord Gort, memutuskan untuk mundur ke Sungai Scheldt karena takut terkepung oleh pihak Jerman. Gerakan ini memungkinkan 6. Armee di bawah pimpinan Generaloberst Walther von Reichenau untuk menduduki Brussels tanpa hambatan berarti. Di lain pihak, perlawanan Belanda terhadap invasi Jerman berakhir dengan dievakuasinya pasukan gabungan Prancis-Belanda di Zeeland serta pulau Walcheren dan Beverland oleh kapal perusak Prancis


   Para prajurit Jerman menghabiskan waktu senggang dengan berenang di tepi pantai. Perlengkapan tempur mereka berserakan di bebatuan, sementara senapan dikumpulkan dalam beberapa tumpukan. Foto ini diambil di dekat Boulogne, Prancis, tanggal 6 Juni 1940, dan orang-orang yang nampang disini berasal dari 1. Gebirgs-Division. Mereka sedang menunggu dimulainya Unternehmen Seelöwe (Operasi Singa Laut, penyerbuan Jerman terhadap Prancis) yang tidak pernah terealisasi. Melihat tanggalnya juga, berarti bahwa Pertempuran Prancis masih belum berakhir! BTW, foto ini diambil oleh seorang perwira Wehrmacht tak dikenal yang meninggalkannya saat dia melarikan diri dari Paris empat tahun kemudian. Seorang fotografer lokal bernama Marcel Gesgon menemukannya dalam bentuk boks negatif, dan dia akhirnya dicetak oleh anaknya yang bernama Alain


The original "selfie" : Rombongan prajurit Wehrmacht - dengan senyum mengembang dan muka cerah - melakukan kunjungan ke Istana Versailles pada tahun 1940, tak lama setelah kejatuhan Prancis serta penandatanganan perjanjian damai dengan Jerman pada tanggal 22 Juni 1940. Tak butuh waktu lama sebelum prajurit-prajurit yang sama dikirim ke Front Timur untuk mempersiapkan serangan besar-besaran atas Uni Soviet yang dikenal dengan nama Unternehmen Barbarossa (Operasi Barbarossa). Perhatikan prajurit yang memakai kacamata di baris kedua, yang meniup terompet sebagai "penyedap rasa" suasana!


 Hari-hari tenang di Johannisburg (Prusia Timur) dengan bunga-bunga tulip bermekaran sementara perang melawan Uni Soviet hanya berselang beberapa lama lagi, awal musim panas tahun 1941. Di sebelah kiri adalah Oberleutnant Hermann Budenbender (Abteilungsadjutant Aufklärungs-Abteilung 35 / 35.Infanterie-Division) sementara di kanannya adalah seorang Führer Panzerspähzug tak dikenal dari unit yang sama. Pada awal April 1941, 35. Infanterie-Division (dikenal dengan nama "Divisi Ikan" sesuai dengan lambangnya) mulai bergerak menuju timur sebagai persiapan untuk Unternehmen Barbarossa yang akan segera digelar. Pada awalnya mereka direncanakan akan transit untuk sementara di wilayah utara dan timur Warsawa tapi kemudian berpindah lagi ke Prusia Timur di sekitar wilayah Johannisburg. Mereka tinggal disana sampai tanggal 10 Juni 1941 ketika datang perintah lagi untuk bergerak menuju perbatasan dengan Rusia


Setelah kesuksesan yang tidak terduga dari tahun-tahun pertama peperangan serta liputan propaganda secara meluas oleh media radio dan cetak, minat masyarakat Jerman terhadap satuan U-boat dan orang-orangnya menjadi bertambah besar dari waktu ke waktu. Pemerintahan Nasional-Sosialis (Nazi) lalu memanfaatkan minat semacam ini - dan juga entusiasme kaum mudanya - untuk menarik sukarelawan yang diperlukan. Bilamana memungkinkan, U-Bootwaffe mempersilakan warga sipil untuk mengakses kapal-kapal selamnya, sehingga remaja Jerman khususnya dapat melihat langsung apa yang sebelumnya hanya mereka ketahui melalui media. Selain itu, awak kapal yang sukses dalam patrolinya seringkali ditugaskan untuk mengunjungi kota sponsor mereka; dan kapten U-boat berkeliling negeri untuk berpidato di sekolah di hadapan para anggota belia Jungvolk serta Hitlerjugend. Pihak Kriegsmarine memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk dapat memajang kapal-kapal selamnya di hadapan khalayak ramai. Salah satu kesempatan semacam itu adalah acara Zoppoter Woche (Minggu Zoppot) yang diselenggarakan pada musim panas tahun 1941. Zoppot adalah sebuah kota pantai di Teluk Danzig yang terkenal dengan fasilitas spa dan wisatanya. Zoppoter Woche sendiri digelar setiap tahun, dari pertengahan sampai akhir bulan Juli, dan merupakan perayaan olahraga besar dengan kompetisi kapal layar, balap kuda dan berenang. Selama seminggu penuh pusat-pusat keramaian kota spa tersebut disesaki oleh pengunjung. Salah satu lokasi yang tersedia adalah dermaganya, yang membentang sepanjang 500 meter sampai ke Teluk Danzig dan menawarkan pemandangan indah wilayah pantai serta Grand Hotel Zoppot pada para pengunjungnya. Grand Hotel sendiri pernah menjadi kediaman Adolf Hitler selama satu minggu saat berlangsungnya fase pembuka invasi Jerman atas Polandia beberapa bulan sebelumnya. Disanalah tepatnya, selama berlangsungnya perhelatan Zoppoter Woche di bulan Juli 1941, U-403 bersandar untuk menarik perhatian para pengunjung yang datang



 U-403 (kapal selam Tipe VIIC) mendapat penugasan pertamanya beberapa waktu sebelumnya, tanggal 25 Juni 1941. Menjadi bagian dari 5. U-Flottille dan dikomandani oleh Kapitänleutnant Heinz-Ehlert Clausen, kapal selam tersebut baru saja menyelesaikan UAK-Abnahme (Ujicoba Penerimaan UAK) pada tanggal 8 Juli 1941. U-403 langsung dikirim ke galangan kapal di Danzig untuk kelengkapan selanjutnya, termasuk pemasangan penahan angin di menara pengawas. Foto berwarna yang ditampilkan disini memperlihatkan dengan jelas emblem U-boat tersebut, yang merupakan Wappen (lambang) dari kota sponsor U-403, Halle an der Saale, dan menampilkan gambar matahari-bulan-bintang yang mirip-mirip simbol Islam. Emblem tersebut dipasang di kiri-kanan menara pengawas. Wappen ini telah dipasang dari sejak penugasan pertama di Danzig-Neufahrwasser.Gambarnya dicat di perisai metal yang kemudian dipasangkan di menara pengawas. Awak U-403 juga memakai emblem ini di topi mereka. Pada bulan Oktober 1941 U-403 menambahkan emblemnya sendiri, lalu pada musim semi tahun 1942 Wappen Halle dicopot dari kedua belah sisi menara pengawas sehingga hanya menyisakan emblem kapal. Di akhir bulan Oktober, U-403 telah menyelesaikan fase pelatihannya di AGRU-Front (juga pelatihan taktis dan persenjataan). Bukannya langsung bertugas ke front, kapal selam tersebut ditugaskan untuk menjadi kapal latihan bersama dengan 27. U-Flottille di Baltik, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan awak dan kaptennya. U-403 digunakan untuk melatih para calon komandan U-boat di Pillau dan Memel. Hari yang ditunggu-tunggu itu tiba ketika pada tanggal 23 Februari 1942 U-403 dipindahkan dari Kiel ke Helgoland, dimana dari sana dia melakukan sorti operasional pertamanya pada tanggal 1 Maret 1942. Kapitänleutnant Clausen menambatkan kapalnya di Narvik 19 hari kemudian. Di musim semi tahun 1943 U-403 telah menyelesaikan lima patroli tambahan dari pangkalannya di Norwegia. Pada tanggal 1 Juli 1942 dia berada di bawah komando 11. U-Flottille di Bergen yang baru dibentuk. Pada tanggal 1 Maret 1943 penugasannya dialihkan ke 9. U-Flottille di Brest. Satu hari kemudian U-403 tiba di pangkalan Angkatan Laut Jerman yang terletak di pantai Samudera Atlantik tersebut dari Trondheim. Di bawah Kapitänleutnant Clausen, U-403 melakukan patroli lainnya pada bulan April-Mei 1943. Meskipun pada bulan Mei 1943 jumlah kehilangan U-boat yang menjadi korban dalam pertempuran begitu besarnya, tapi Clausen berhasil membawa kapalnya kembali ke Brest. Tak lama kemudian terjadi perubahan komando kapal, kemungkinan karena Clausen dianggap tidak terlalu berhasil dalam masa penugasannya, dengan hanya mampu menenggelamkan dua buah kapal dengan total tonase 12.946 ton dalam tujuh patroli. Di bawah komandannya yang baru, Kapitänleutnant Karl-Franz Heine, U-403 berlayar dari Brest untuk melakukan patroli kedelapannya pada tanggal 13 Juli 1943. Pesan terakhir dari kapal tersebut diterima 10 hari kemudian, ketika dia melaporkan telah mendapat serangan udara di posisi 46 N 10 W. Tak ada pesan lagi yang diterima, sehingga kemudian Befehlshaber der Unterseeboote (BdU) menyimpulkan bahwa U-403 telah tenggelam oleh serangan udara pada tanggal 23 Juli. Karenanya, pada tanggal 27 Agustus 1943 kapal tersebut dinyatakan sebagai "x" (kemungkinan tenggelam), dan pada tanggal 18 Mei 1944 sebagai "xx" (hilang). Pada kenyataannya, U-403 telah selamat dari serangan tersebut. Ketiadaan pesan radio lanjutan kemungkinan besar dikarenakan peralatan radionya rusak dalam serangan tersebut. U-403 pada akhirnya tenggelam, tapi tidak sampai empat minggu kemudian pada tanggal 18 Agustus 1943 di dekat pantai Afrika Barat, setelah mendapat serangan pesawat Wellington dari Nr. 344 Squadron yang dipiloti oleh orang Prancis. Dari 50 orang awaknya, tak ada satu orangpun yang selamat. Ternyata, komandan baru U-403 tidak membawa keberuntungan bagi para awaknya...


 Para pilot Luftwaffe dari I.Gruppe / Jagdgeschwader 27 (JG 27) sedang asyik bermain kartu remi di padang pasir Afrika Utara tahun 1942, sementara di belakang mereka terparkir sebuah Messerschmitt Bf 109 E-4 Trop "Schwarze 3". Mereka semua bertelanjang dada sambil mengenakan tropenhelm untuk melindungi diri dari panas yang menyengat


  Foto ini pertama kali dipublikasikan dalam buku keluaran tahun 1943 yang berjudul "Balkenkreuz Über Wüstensand: Falbbirderwerk des Deutschen Afrikakorps" (Salib Balkan di Atas Pasir Gurun: Buku Gambar Berwarna dari Afrikakorps Jerman) karya Gerhard Stalling. Dia memperlihatkan seorang perwira Luftwaffe dengan pangkat Oberleutnant sedang bermain kartu di padang pasir Afrika Utara sambil merokok. Cukup ironis mengingat bahwa dia sebenarnya adalah seorang petugas medis yang berhubungan erat dengan kesehatan (perhatikan simbol ular kadut melilit tongkat di schulterklappen-nya)! Untuk seorang perwira medis (Sanitätsoffizier), pangkat yang setara dengan Oberleutnant (Letnant Satu) adalah Oberarzt. Tampaknya dia telah ikut dalam aksi pertempuran, yang terlihat dari pita Eisernes Kreuz II.Klasse di kancing seragamnya. Dia juga mengenakan "knautschmütze" (crusher cap) versi Luftwaffe, yang pada dasarnya adalah schirmmütze (visor cap) yang diremas sampai lemas (pikirannya jangan kemana-mana!)

 Foto yang tidak biasa dari Perang Dunia II: Para pilot dari pesawat pembom Heinkel He 111 (II.Gruppe / Kampfgeschwader 27 "Boelcke") ini beramai-ramai melaksanakan upacara pemakaman secara simbolis, entah dengan tujuan apa! Di peti mati yang dibakar tersebut terdapat tulisan "Dein leben - dein gewinn" (hidupmu, hadiahmu) dan "Mich auch" (aku juga). Foto di atas diambil di lapangan udara Tatsinskaya, Stalingrad, musim gugur 1942 oleh Siegfried Lauterwasser



Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.5 - 2009
www.kavallerie-regiment18.de
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Foto Berwarna Kriegsmarine (Angkatan Laut)



 


Foto ini diambil oleh Hugo Jaeger di atas kapal perang Scharnhorst yang sedang berlabuh di pangkalan Angkatan Laut Wilhelmshaven tanggal 1 April 1939 (sumber lain menyebutkan bahwa nama kapal perangnya adalah Tirpitz, tapi itu salah beibeh!). Acaranya sendiri adalah penganugerahan Marschallstab (Tongkat Marsekal) oleh Adolf Hitler untuk Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) yang baru saja mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Generaladmiral (Laksamana Jenderal) menjadi Großadmiral (Laksamana Besar). Di sebelah kanan Hitler berdiri Korvettenkapitän Alwin-Broder Albrecht (Marine-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"). Kemungkinan besar laksamana Kriegsmarine yang berdiri paling depan di sebelah kiri adalah Konteradmiral Günther Lütjens (Führer der Torpedoboote), sementara yang memberi hormat militer di tengah sementara lainnya hormat Nazi (biar greget!) adalah Vizeadmiral Wilhelm Marschall (Befehlshaber der Panzerschiffe), dan ketiga dari kanan (dengan janggut putih) adalah Admiral Rolf Carls (Kommandierender Admiral Marinestation der Ostsee)


Foto ini diambil oleh Hugo Jaeger di atas kapal perang Scharnhorst yang sedang berlabuh di pangkalan Angkatan Laut Wilhelmshaven tanggal 1 April 1939. Acaranya adalah penganugerahan Admiralstab (Tongkat Laksamana) oleh Adolf Hitler untuk Erich Raeder (Oberbefehlshaber der Kriegsmarine) yang baru saja mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Generaladmiral (Laksamana Jenderal) menjadi Großadmiral (Laksamana Besar). Di belakang Hitler adalah Korvettenkapitän Alwin-Broder Albrecht (Marine-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler") yang membawa boks pembungkus Admiralstab beserta Urkunde (dokumen). Berdiri mengelilingi, dari kiri ke kanan: enam orang laksamana Kriegsmarine tak dikenal, Oberstleutnant Rudolf Schmundt (Heeres-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), Generaloberst Walther von Brauchitsch (Oberbefehlshaber des Heeres), SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant “Führer und Reichskanzler”), SS-Gruppenführer Julius Schaub (Persönlicher Adjutant des Führers), Generaloberst Erhard Milch (Generalinspekteur der Luftwaffe als Vertreter des Oberbefehlshabers Göring), SS-Gruppenführer Dr.rer.pol. Otto Dietrich (Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda), SS-Gruppenführer Dr.jur. Hans Lammers (Staatssekretäfr und Chef der Reichskanzlei), dan Generaloberst Wilhelm Keitel (Chef des Oberkommando der Wehrmacht)


  Foto yang diambil oleh Hugo Jaeger ini diambil di Berlin pada saat demonstrasi militer Wehrmacht untuk merayakan ulangtahun Adolf Hitler (Führergeburtstag) yang ke-50 tanggal 20 April 1939. Para Fahnenträger (Pembawa Bendera) di atas berasal dari berbagai unit Wehrmacht yang membawa panji-panji kebesaran unit mereka. Fahnenträger mudah dikenali dari ringkragen (gorget) yang mereka kenakan, yang dipadukan dengan lencana khusus di lengan, Waffenrock (seragam parade) dan selempang yang sekaligus berfungsi sebagai dudukan tiang bendera. Tambang Schützenschnur (marksmanship lanyard) adalah sebagai bukti bahwa mereka telah lulus dari tes ketepatan menembak dengan senapan


 Foto yang diambil dari majalah SIGNAL edisi Mei 1943 ini tampaknya diambil saat latihan dan memperlihatkan seorang awak u-boat sedang menyelam menggunakan tauchretter di atas pintu keluar kapal selam. Tauchretter (arti harfiahnya: penyelamat penyelam) adalah satu set alat bernafas yang memungkinkan penggunanya untuk dapat selamat untuk sementara waktu di lingkungan tanpa oksigen untuk bernafas yang memadai, utamanya di dalam air. Karena keterbatasan waktu pakainya yang sebentar, maka alat ini umumnya hanya dipakai untuk menyelamatkan diri saat keluar dari kapal yang tenggelam dan berenang ke atas mencapai permukaan. Tauchretter terdiri dari tiga alat utama (seperti yang terlihat dalam gambar): tabung oksigen, penjepit hidung, dan kantong udara



Sumber :
www.life.time.com
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Wednesday, May 28, 2014

Foto Berwarna Heer (Angkatan Darat)

Foto yang diambil oleh Hugo Jaeger ini diambil di Berlin pada saat demonstrasi militer Wehrmacht untuk merayakan ulangtahun Adolf Hitler (Führergeburtstag) yang ke-50 tanggal 20 April 1939. Para Fahnenträger (Pembawa Bendera) di atas berasal dari Infanterie-Regiment 102 yang pada saat itu dipimpin oleh Oberst Stephan Rittau (pangkat terakhir Generalleutnant)



  Foto yang diambil oleh Hugo Jaeger ini diambil di Berlin pada saat demonstrasi militer Wehrmacht untuk merayakan ulangtahun Adolf Hitler (Führergeburtstag) yang ke-50 tanggal 20 April 1939. Para Fahnenträger (Pembawa Bendera) di atas berasal dari berbagai unit Wehrmacht yang membawa panji-panji kebesaran unit mereka. Fahnenträger mudah dikenali dari ringkragen (gorget) yang mereka kenakan, yang dipadukan dengan lencana khusus di lengan, Waffenrock (seragam parade) dan selempang yang sekaligus berfungsi sebagai dudukan tiang bendera. Tambang Schützenschnur (marksmanship lanyard) adalah sebagai bukti bahwa mereka telah lulus dari tes ketepatan menembak dengan senapan


 Inspeksi pasukan Heer di Paris, Prancis, tahun 1941 (kemungkinan persiapan sebelum diterjunkan dalam Unternehmen Barbarossa). Mereka semua memakai tas pakaian standar M31 (Bekleidungssack 31), kaleng pembungkus masker gas M1930 (Tragbüsche für Gasmaske 30) dengan kantong kain gas (Gasplane) di selempang bahu. Perhatikan pula anak-anak yang tampaknya begitu bebas berkeliaran di sekeliling 'tentara Nazi barbar" ini!


 Foto ini diambil oleh Kriegsberichter Koltzenburg dan memperlihatkan sebuah kereta perbekalan yang ditarik oleh kuda milik satu kompi Grenadier Heer yang dengan susah payah menyeberangi sebuah sungai di Rusia, musim panas tahun 1942. Foto ini cocok dijadikan sebagai contoh ilustrasi untuk menolak "mitos" pasukan lapis baja Wehrmacht yang perkasa dan hampir semuanya adalah unit kendaraan bermotor. Pada kenyataannya, dalam Perang Dunia II tak ada kekuatan lain yang berseteru yang begitu menggantungkan keberlangsungannya pada "pasukan kuda" selain Jerman. Sebuah divisi infanteri standar biasanya diperkuat oleh 3.635 ekor kuda plus 895 kereta penarik yang terbuat dari kayu! Tidak kurang dari TIGA JUTA ekor kuda dan bagal yang digunakan oleh pasukan Jerman selama kurun waktu tahun 1939 sampai dengan tahun 1945. Hal ini menyebabkan masalah logistik yang seakan tak ada habisnya, terutama di medan perang Front Timur dan di Prancis (tahun 1944). Di pihak lain, perlu diingat bahwa hanya 10% jalan di Rusia yang berada dalam kondisi "normal" sehingga kuda sangat dibutuhkan untuk membantu menerobos medan cross-country atau menarik kendaraan bermotor yang terjebak oleh lumpur

Sumber :
www.5sswiking.tumblr.com
www.life.time.com
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Foto Berwarna Ritterkreuzträger (Peraih Ritterkreuz)

LUFTWAFFE 

Para perwira dari Nachtjagdgeschwader 1 (NJG 1) di Venlo, Belanda, musim semi tahun 1941. Dari kiri ke kanan: Nachtflugleiter (pemimpin penerbang malam) Hauptmann G. Hitgen (Fluglotse alias air traffic controller), Hauptmann Werner Streib (Staffelkapitän 2./NJG 1), dan Leutnant Hans-Dieter Frank (Flugzeugführer di 2./NJG 1). Karena efek musim dingin masih terasa, mereka semua mengenakan ledermantel (mantel kulit) M36. Streib adalah peraih Ritterkreuz (6 Oktober 1940) yang nantinya meraih Eichenlaub #197 (26 Februari 1943) serta Schwerter #54 (11 Maret 1944). Dia adalah jagoan udara dengan 66 kemenangan (65 diraih di malam hari). Sementara Frank nantinya meraih Ritterkreuz (20 Juni 1943) serta Eichenlaub #417 (anumerta, 2 Maret 1944). Jumlah kemenangannya adalah 55


 Para pilot dari Nachtjagdgeschwader 1 (NJG 1), difoto di musim dingin 1940-1941 di depan sebuah mobil Ford 1939 Mercury Eight keluaran Amerika. Dari kiri ke kanan: Leutnant Reinhold Knacke (Flugzeugführer di 2./NJG 1. Ritterkreuz 1 Juli 1942 dan Eichenlaub 7 Februari 1943. 44 kemenangan udara), Leutnant Kurt Loos (Flugzeugführer di 2./NJG 1. Deutsches Kreuz in Gold 21 Agustus 1942. 10 kemenangan udara), Leutnant Wolfgang "Ameise" Thimmig (Flugzeugführer di 2./NJG 1. Deutsches Kreuz in Gold 12 Juli 1943. 23 kemenangan udara), Leutnant Hermann Reese (Flugzeugführer di 2./NJG 1. Ehrenpokal. 5 kemenangan udara), dan Leutnant Hans-Dieter Frank (Flugzeugführer di 2./NJG 1. Ritterkreuz 20 Juni 1943 dan Eichenlaub 2 Maret 1944. 55 kemenangan udara)


 Para personil II.Gruppe / Jagdgeschwader 2 (JG 2) "Richthofen" berfoto bersama di Tunisia, awal tahun 1943. Ketiga dari kiri adalah Oberleutnant Erich Rudorffer (Gruppenkommandeur sementara II./JG 2), yang nantinya mengakhiri perang sebagai Major dengan 224 kemenangan udara dan juga merupakan peraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwertern. Di sebelah kanan Rudorffer berdiri Oberleutnant Kurt Bühligen (Staffelkapitän 4./JG 2) yang merupakan salah satu pilot Luftwaffe paling sukses dalam palagan Tunisia setelah berhasil menembak jatuh 40 pesawat Sekutu. Bühligen mengakhiri perang sebagai seorang Oberstleutnant dengan 112 kemenangan udara dan mendapatkan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub. Setelah komandan II./JG 2 Hauptmann Adolf Dickfeld (136 kemenangan, RK-EL) dirumahsakitkan menyusul luka yang dideritanya dalam kecelakaan saat mendarat, Oberleutnant Rudorffer mengambil alih tongkat komando II./JG 2 untuk sementara waktu


  Empat orang jagoan udara terbaik Luftwaffe berpose bersama setelah upacara penganugerahan medali oleh Adolf Hitler yang diselenggarakan di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Sarang Serigala), Rastenburg/Ostpreußen, pada tanggal 22 September 1943. Dari kiri ke kanan: Hauptmann Heinrich Prinz zu Sayn-Wittgenstein (Eichenlaub #290 zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 31 Agustus 1943 sebagai Gruppenkommandeur I.Gruppe / Nachtjagdgeschwader 100, setelah menembak jatuh 54 pesawat musuh di malam hari), Major Hartmann Grasser (Eichenlaub #288 zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 31 Agustus 1943 sebagai Gruppenkommandeur II.Gruppe / Jagdgeschwader 51 "Mölders", setelah menembak jatuh 103 pesawat musuh), Hauptmann Walter Nowotny (menerima dua medali sekaligus: Eichenlaub #293 dan Schwerter #37 zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes sebagai Gruppenkommandeur I.Gruppe / Jagdgeschwader 54 "Grünherz". Eichenlaub didapatkan tanggal 4 September 1943 setelah menembak jatuh 189 pesawat musuh, sementara Schwerter didapatkan tanggal 22 September 1943 setelah skornya bertambah menjadi 218 pesawat yang ditembak jatuh), serta Hauptmann Günther Rall (Schwerter #34 zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub tanggal 12 September 1943 sebagai Gruppenkommandeur III.Gruppe / Jagdgeschwader 52, setelah menembak jatuh 200 pesawat musuh. Foto diambil oleh Walter Frentz



Tiga orang jagoan pembom Luftwaffe sekaligus Schwerternträger (peraih Schwertern zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub). Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant Joachim "Jochen" Helbig (Geschwaderkommodore Lehrgeschwader 1), Generalmajor Dietrich Peltz (Kommandierender General IX. Fliegerkorps), dan Major Werner Baumbach (Inspizient der Kampfflieger). Setidaknya dua orang diantaranya (Peltz dan Baumbach) terlihat mengenakan medali Gemeinsames Flugzeugführer- und Beobachterabzeichen in Gold mit Brillanten (Combined Pilots and Observers Badge in Gold with Diamonds). Foto ini diambil tak lama setelah upacara pemberian "Schwertern Grosse Urkunden" (dokumen besar medali Schwerter) oleh Adolf Hitler untuk 14 orang perwira Luftwaffe - yang merupakan Schwerternträger, peraih Schwerter - di Führerhauptquartier Wolfsschanze (Rastenburg) tanggal 20 Januari 1944 pukul 11:00 siang. Para penerima dibagi ke dalam dua ruangan dan dipimpin oleh Generalmajor Adolf Galland (General der Jagdflieger)

------------------------------------------------------------------------------

KRIEGSMARINE

  Foto hasil karya Walter Frentz ini pertama kali dipublikasikan dalam majalah SIGNAL edisi bulan Februari 1943 untuk menyambut pengangkatan Panglima Kriegsmarine yang baru, Karl Dönitz (menggantikan Erich Raeder yang dianggap gagal memaksimalkan kemampuan Angkatan Laut Jerman dalam Perang Dunia II). Dari kiri ke kanan: Kapitänleutnant Adalbert Schnee (Geleitzugs-Asto, Admiralstabsoffizier beim Befehlshaber der Unterseeboote), Generaladmiral Karl Dönitz (Befehlshaber der Unterseeboote), dan Kapitän zur See Eberhard Godt (Chef der Operationsabteilung beim Befehlshaber der U-Boote). Mereka sedang mempelajari peta samudera yang terhampar di meja. Foto ini sendiri diambil di ruangan operasi U-boat di markas besar Kriegsmarine di Berlin (Marinehauptquartier Koralle)


Sumber :
Buku "Footsteps of the Hunter" karya Adolf Dickfeld 
Foto koleksi pribadi Eric JB
www.historicalwarmilitariaforum.com
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Foto Berwarna Hungaria Dalam Perang Dunia II

Prajurit Hungaria sedang berlatih karya fotografer Konok Tamás. Dia kurang tertarik untuk mengabadikan suasana perang dan lebih memilih foto pemandangan, orang-orang biasa, atau bahkan gerakan itu sendiri. Foto di atas diambil dari deretan foto yang merekam tahap berbeda dari sebuah lompatan. Hasilnya masih belum disebut sebagai "seni" pada saat itu. Baru lah setelah foto-fotonya masuk musium tahun 1960-an dia disebut sebagai bentuk seni dari fotografi!


Meriam 29M Bofors 88mm dan para awaknya di luar sebuah kota Ukraina. Senjata tersebut merupakan buatan Swedia dan mampu pula digunakan untuk melahap target-target darat semisal tank atau kendaraan perang lainnya. Wehrmacht mengembangkan meriam 88mm-nya sendiri atas bantuan dari Bofors. Foto karya Konok Tamás


Pada tanggal 25 Januari 1943, Kandidat Perwira muda Gynes bergabung dengan skuadron 5/1 di front Rusia. Gynes adalah salah satu pilot pertama dari 5/1 yang mengikuti pelatihan peralihat pesawat Messerschmitt Bf 109 F-4. Sang Kandidat Perwira kebanyakan ditugaskan untuk melakukan misi serang-darat untuk mengganggu pasokan suplai pasukan Rusia. Selain sebagai seorang pilot, Gynes juga ternyata mempunyai hobi fotografi, dan foto-foto berwarna yang ada disini merupakan hasil karyanya. Seperti yang tampak dalam salah satu foto di bawah, dia juga mempunyai waktu untuk mengabadikan susana sekitar ketika sedang terbang! Saat sedang mencoba memfoto pesawat komandannya pada tanggal 9 Mei 1943, pesawatnya secara tragis bertabrakan dengan Bf 109 yang diterbangkan oleh wingman-nya Sersan Tanay. Kedua pilot tewas dalam peristiwa ini. Pada saat kematiannya, Gynes telah melakukan 65 misi tempur


Foto dari Messerschmitt Bf 109 F-4 “V+12” milik skuadron pemburu Hungaria 5/2 ini kemungkinan besar diambil di akhir Januari-awal Februari 1943 saat dia sedang dipersiapkan sebelum beraksi. Perhatikan emblem di bawah sayap. Fairing roda utamanya telah dicopot untuk menghindari penumpukan salju di antara roda dengan penutupnya. Ujung sayap pesawat ini berwarna kuning, sementara permukaan ekornya diberikan warna nasional Hungaria yaitu putih, merah dan hijau. Spinner merah merupakan hal yang biasa bagi pesawat-pesawat skuadron 5/1 dan 5/2. Yang mengejutkan adalah tidak adanya kamuflase putih musim dingin sedikitpun dari pesawat ini, suatu hal yang merupakan ‘kewajiban’ di masa itu!


Mekanik Hungaria sedang menservis mesin DB 601 dari pesawat Messerschmitt Bf 109 F-4. Foto ini juga diambil di bulan Februari 1943. Karena tugas semacam ini membuat dia terekspos oleh cuaca dingin yang begitu amit-amitnya di wilayah terbuka, maka si mekanik mengenakan topi bulu domba dan rompi kulit. Pesawat ini sendiri mempunyai spinner yang berwarna hitam


Foto ini diambil saat berlangsungnya misi fighter-bomber di angkasa. Di atas ujung sayap, Kandidat Perwira Gynes mengabadikan sebuah jalan yang biasa digunakan untuk memasok suplai pasukan Rusia. Salib putih dalam segi empat hitam mula pertama diperkenalkan di akhir tahun 1942. Dia menggantikan marking nasional Hungaria yang sebelumnya dipakai (panah merah-putih-hijau) yang menimbulkan banyak masalah identifikasi. Maksud penggunaan garis merah di sayap sendiri tidak diketahui


Pemanasan mesin pesawat Messerschmitt Bf 109 F-4 “V-+08” dari skuadron Hungaria 5/1 sebelum melakukan penerbangan latihan. Pilotnya sudah duduk di kokpit, sementara pesawatnya sendiri tampak diparkir di sebuah ‘kandang’ yang dikelilingi oleh pagar balok kayu. Penutup mesinnya berwarna hijau, sementara warna kamuflase abu-abu standar diterapkan di bagian bawah kokpit

Generaloberst Walter Model (Oberbefehlshaber 9.Armee) sedang berbincang-bincang dengan perwira Hungaria yang merupakan sekutu Jerman dalam Perang Dunia II. Di sebelah Model adalah Generalleutnant Rudolf von Bünau (Kommandeur 73. Infanterie-Division)


Sumber :
Majalah "Luftwaffe im Focus Spezial" edisi No.1 terbitan tahun 2003
www.index.hu

Foto Berwarna Medis Wehrmacht dan Luka dalam Peperangan

Setiap divisi Wehrmacht mempunyai satu kompi medis (Sanitäts-Kompanie atau Divisionsärzte) dengan satu orang Zahnarzt (dokter gigi) yang biasanya berpangkat Leutnant sampai Hauptmann, meskipun kadang di satu Divisionsärzte ada juga dua orang Zahnarzt yang bertugas. Bila di satu divisi terdapat dua kompi medis, maka jumlah Zahnarzt-nya tetap satu (atau dua, tergantung jumlah anggota divisi). Para dokter gigi ini bekerja dibantu dengan asisten medis yang biasanya berpangkat bintara. Selain itu, setiap Feldlazarett (Rumahsakit lapangan) juga mempunyai seorang Zahnarzt-nya sendiri yang dibantu oleh asisten medis yang dilatih khusus mengenai masalah kedokteran gigi. Markas dari Feldlazarett batalyon mempunyai sampai 12 orang Zahnarzt berpangkat perwira, sementara lebih jauh lagi ke garis belakang atau di heimat (tanah air), rumah sakit militer atau sipil dilengkapi oleh ahli bedah yang mengambil spesialisasi bedah gigi, bedah rahang, atau disiplin ilmu "kegigian" lainnya, dan mereka pun mempunyai asisten medisnya tersendiri. Waffen-SS mempunyai organisasi yang menginduk ke Wehrmacht, meskipun di pertengahan dan akhir perang mereka juga mempunyai organisasi kompi medis yang independen dan terpisah dari Wehrmacht


  Foto ini pertama kali dipublikasikan dalam buku keluaran tahun 1943 yang berjudul "Balkenkreuz Über Wüstensand: Falbbirderwerk des Deutschen Afrikakorps" (Salib Balkan di Atas Pasir Gurun: Buku Gambar Berwarna dari Afrikakorps Jerman) karya Gerhard Stalling. Dia memperlihatkan seorang perwira Luftwaffe dengan pangkat Oberleutnant sedang bermain kartu di padang pasir Afrika Utara sambil merokok. Cukup ironis mengingat bahwa dia sebenarnya adalah seorang petugas medis yang berhubungan erat dengan kesehatan (perhatikan simbol ular kadut melilit tongkat di schulterklappen-nya)! Untuk seorang perwira medis (Sanitätsoffizier), pangkat yang setara dengan Oberleutnant (Letnant Satu) adalah Oberarzt. Tampaknya dia telah ikut dalam aksi pertempuran, yang terlihat dari pita Eisernes Kreuz II.Klasse di kancing seragamnya. Dia juga mengenakan "knautschmütze" (crusher cap) versi Luftwaffe, yang pada dasarnya adalah schirmmütze (visor cap) yang diremas sampai lemas (pikirannya jangan kemana-mana!)


Foto yang memperlihatkan seorang prajurit RAD (Reichsarbeitsdienst) berpangkat Feldmeister dengan perban di kepalanya yang terluka yang diambil di Rusia tanggal 6 September 1941 ini dijual di ebay Jerman dengan harga gila-gilaan: 465 Euro! Orang yang memotretnya bernama Klinzy, dan saya tidak tahu apakah dia seorang Kriegsberichter (Koresponden Perang) atau bukan, meskipun kemungkinan besar dia adalah prajurit biasa karena keamatirannya terlihat dengan adanya bayangan dia yang "ngebelegedeg" di foto ini!


 Seorang Hauptmann Heer dengan tangan yang terbebat perban di Front Timur selama berlangsungnya Operasi Barbarossa tahun 1941. Karena lukanya dirasa tidak terlalu berat, dia memutuskan untuk tetap mendampingi anakbuahnya di front dan tidak pergi ke garis belakang untuk mendapatkan perawatan lanjutan


Foto berwarna asli masa Perang Dunia II ini diambil di Front Timur pada tahun 1942 dan memperlihatkan seorang prajurit Heer (Angkatan darat Jerman) yang putus lengan kirinya oleh ledakan bom. Rekan-rekannya berusaha membantu melakukan pertolongan pertama, termasuk seorang anggota Sanitäter (medis) yang memakai pita lengan dengan lambang palang merah. Untuk mencegah infeksi di lokasi luka biasanya digunakan bubuk sulfa karena pada masa Perang Dunia II Jerman tidak memakai Penisilin (meskipun Penisilin telah ditemukan bertahun-tahun sebelumnya oleh Alexander Fleming saat bekerja di rumah sakit London). Seorang Sanitäter Wehrmacht - apalagi di Front Timur yang terkenal brutal - rata-rata dibekali dengan pistol yang akan digunakan untuk bertempur hanya dalam keadaan darurat alias kepepet. Meskipun secara resmi dilabeli sebagai "bukan prajurit tempur" oleh Konferensi Jenewa (selain dari Pendeta Militer), tapi di tengah-tengah kontak-senjata yang berkecamuk biasanya sulit dibedakan antara prajurit biasa atau prajurit medis (meski telah dilengkapi oleh pita lengan atau tanda palang merah di helm)


Sumber :
www.forum.leslufteaux.com
www.wehrmacht-awards.com
www.ww2colorfarbe.blogspot.com

Tuesday, May 27, 2014

Album Foto 69. Infanterie-Division

69. Infanterie-Division didirikan tanggal 26 Agustus 1939 sebagai bagian dari 2. Welle (gelombang kedua) pembentukan divisi-divisi Wehrmacht. Anggota-anggotanya diambil dari gabungan 16. Infanterie-Division dan 26. Infanterie-Division. Dalam invasi Jerman ke Norwegia tahun 1940, sebagian elemennya ikut ambil bagian dalam penyerbuan ke bandara Sola dan dibagi menjadi dua buah Kampfgruppe (Gruppe Adlhoch dan Gruppe Daubert) selama berlangsungnya gerak maju dari timur Norwegia ke Bergen di bagian baratnya. Mereka terlibat pertempuran sengit melawan Valdresgruppen Norwegia (yang terdiri dari brigade ke-4 dan sebagian resimen infanterie ke-6) di bawah pimpinan Kolonel Gudbrand Østby dari tanggal 14 April s/d 2 Mei 1940. 69. Infanterie-Division musnah dalam pertempuran tidak seimbang melawan Tentara Merah di Sungai Inster di Prusia Timur tahun 1945. Sebagian anggotanya yang selamat menyerahkan diri ke tangan pasukan Soviet setelah jatuhnya Königsberg tanggal 10 April 1945

------------------------------------------------------------------------

 Hauptmann Herbert Stemmer (Chef 9.Kompanie / III.Bataillon / Infanterie-Regiment 236 / 69.Infanterie-Division) di depan sebuah Panzerkampfwagen I Ausf.A dari 3.Kompanie / Panzer-Abteilung z.b.V. 40 di pagi tanggal 18 April 1940 tak lama sebelum memimpin pasukannya bertempur di wilayah Valdres, Norwegia. Dua hari kemudian (20 April) dia terlibat dalam pergulatan sengit memperebutkan sebuah tanah pertanian strategis di Bagnsbergattn melawan elemen-elemen dari Valdresgruppen Norwegia. Di masa damai Stemmer berprofesi sebagai pengacara, sementara lawannya dalam pertempuran itu, Kaptein Fredrik Rieber-Mohn (komandan kompi ke-3 / Resimen Infanteri 10), juga merupakan seorang pengacara, sehingga pertempuran kecil ini disebut juga sebagai "Perang Antar Pengacara"! Pertempuran tersebut dimenangkan oleh pengacara dari Norwegia. Stemmer sendiri bukanlah seorang pendukung Nazi dan sering menyuarakan penentangannya kepada orang-orang terdekat yang dipercayainya. Dalam pengadilan penjahat perang Nazi tahun 1945 seusai Perang Dunia II jasanya bahkan digunakan oleh pihak Sekutu sebagai salah satu penasihat hukum mereka!


 Pasukan Jerman dari 11. Kompanie mendaki jalan yang curam dalam gerak memutar menuju Torsrud dan Leisterud, Bagn (Norwegia) tanggal 18 April 1940. Ini merupakan jalan pintas yang mengelilingi lembah di Bagn dan pada saat itu sebagian elemen dari 11.Kompanie / III.Bataillon / Infanterie-Regiment 236 / 69. Infanterie-Division (Gruppe Daubert) berusaha melakukan serangan samping kiri terhadap pasukan Norwegia yang bertahan di wilayah pegunungan, sementara rekannya dari 10.Kompanie bergerak ke samping kanan di timur Begna dan 9.Kompanie dibantu dengan dua buah Panzerkampfwagen I dari 3.Kompanie / Panzer-Abteilung z.b.V. 40 melintasi jalan utama


 Satu dari dua buah Panzerkampfwagen I Ausf.A dari 3.Kompanie / Panzer-Abteilung z.b.V. 40 bergerak melewati penghalang jalan yang sengaja dibuat oleh tentara Norwegia di Bergsund, selatan Bagn, Valdres (Norwegia), sore tanggal 18 April 1940. Pasukan infanteri pengiringnya berasal dari III.Bataillon / Infanterie-Regiment 236 / 69.Infanterie-Division (Gruppe Daubert). Setelah melewati banyak perintang dan ranjau yang ditanam di sepanjang jalan, pasukan Jerman akhirnya tiba di Bagn pukul 16:00, dan dari sana bergerak lagi menuju posisi musuh yang bersembunyi di pegunungan di sekitarnya


 Pasukan Jerman dari 9.Kompanie / III.Bataillon / Infanterie-Regiment 236 / 69. Infanterie-Division (Gruppe Daubert) mendapat serangan secara mendadak dari kelompok tentara Norwegia pimpinan Fenrik Kvaals saat melintasi Leiteberget di wilayah selatan Bagn, Valdres (Norwegia), tanggal 18 April 1940 pukul 18:30 (pada saat-saat tertentu, di wilayah Skandinavia matahari baru tenggelam pukul 21:00!). Mereka berlindung dari tembakan musuh yang berasal dari arah hutan dengan memanfaatkan sebuah Panzerkampfwagen I Ausf.A dari 3.Kompanie / Panzer-Abteilung z.b.V. 40. Dalam usahanya untuk bergerak maju menuju Begnadalen, 67 orang tentara Jerman menjadi korban serta dua tank hancur sementara korban di pihak Norwegia hanya 2 orang! Ini karena lawan pihak Jerman berasal dari sebuah klub menembak lokal yang melepaskan tembakan-tembakan terarah sembari mematikan!


 Pasukan Jerman dari 9.Kompanie / III.Bataillon / Infanterie-Regiment 236 / 69. Infanterie-Division (Gruppe Daubert) mendapat serangan secara mendadak dari kelompok tentara Norwegia pimpinan Fenrik Kvaals saat melintasi Leiteberget di wilayah selatan Bagn, Valdres (Norwegia), tanggal 18 April 1940 pukul 18:30. Mereka melakukan serangan balik untuk mengusir penyerang dengan memanfaatkan mortir Granatwerfer (GrW) 34 8cm. Pertempuran berlangsung selama 1½ jam dan, ketika posisi utama pasukan Kvaals tetap tidak diketahui dengan pasti, pihak Jerman di bawah pimpinan Hauptmann Herbert Stemmer kemudian mundur dengan teratur


 Pasukan Jerman dari III.Bataillon / Infanterie-Regiment 236 / 69. Infanterie-Division (Gruppe Daubert) mendapat serangan secara mendadak dari kelompok tentara Valdresgruppen Norwegia (pimpinan Mayor Halfdan Haneborg-Hansen) di jalan antara Hønefoss dan Bagn, Valdres (Norwegia), tanggal 18 April 1940. Paling kiri yang memegang senapan mesin dari jenis Bergmann-Maschinen-Pistole M32 adalah Oberleutnant Herman Kornoff yang nantinya gugur di Bagnsbergatn, sementara yang menghadap kamera adalah Hauptmann Herbert Stemmer (Chef 9.Kompanie / III.Bataillon / Infanterie-Regiment 236 / 69.Infanterie-Division) yang nantinya terluka berat di Bagnsbergatn


Sumber :
www.axishistory.com
www.commons.wikimedia.org
www.en.wikipedia.org
www.hem.fyristorg.com
www.krigsbilder.net