Thursday, March 1, 2012

Sejarah SS (Schutzstaffel) dan Waffen-SS


Oleh: Delly Soewandi

Hanya sedikit kesatuan militer yang pernah ada maupun masih ada, dimana riwayat atau ceritanya diangkat berulang-ulang dan tetap menarik seperti Waffen-SS. Buku yang secara komprehensif membahas Waffen-SS sendiri (sampai tulisan ini dibuat) telah ada lebih dari 150 judul buku, dalam berbagai bahasa dan sudut pandang!

Ketertarikan para penulis yang terdiri dari para sejarawan, pengajar sejarah di akademi militer dan analis militer itu sangat beragam. Apakah dalam bentuk kekaguman atas ketangguhan mereka, mesin perang yang efektif, reputasi tempur yang gemilang, salah satu peletak dasar pasukan elit modern, metode pelatihan serta doktrin tempur yang diikuti oleh pihak-pihak yang mengalahkannya, atau karena kontroversinya yang menonjol seperti halnya daftar kekejaman-kekejaman dan bagian dari sebuah rezim otoriter yang disebut-sebut sebagai “kerajaan iblis” di abad 20!

Mungkin untuk seterusnya Waffen-SS masih menjadi sebuah topik menarik untuk dikedepankan, dicaci, dipuji, dipelajari. Karena banyak pula nilai lebih yang bisa diangkat seperti keelitan, persaudaraan yang kuat, kesatuan tentara dari berbagai etnis dan bangsa namun memiliki satu semboyan yang dipegang teguh, keberanian, tangguh dan sangat diandalkan.

Menjelang akhir perang pun, mayoritas Waffen-SS terutama bentukan awal (classic division) telah hilang keyakinannya terhadap Hitler maupun Nazi, namun mereka tetap gigih bertempur. Sebaliknya kesatuan Wehrmacht di sekitar mereka dengan mudahnya menyerah atau melarikan diri. Pada saat akhir itu, mereka bertempur bukan karena loyalitas kepada tuan politik, tetapi lebih kepada saudara seperjuangan dalam satu kesatuan dan kebanggaan bergabung dalam satu kesatuan elit. Walaupun lawan selalu berjumlah lebih besar dan lebih kuat dari mereka.

Pandangan yang salah bila menyamakan Waffen-SS dengan Allgemeine-SS (SS biasa, SS politik atau si baju hitam) seperti umum digambarkan film Hollywood maupun literatur yang menggambarkan cerita dari satu sisi. Perbedaan mendasar antara Waffen-SS dengan SS adalah pada fungsi dan penugasannya:

SS berisikan orang-orang pintar lulusan universitas dan bergerak pada birokrasi pemerintahan, politik dan kepartaian selain tugas kepolisian dan pengamanan dalam negeri, counter espionage, ekonomi, sosial, teknologi dan lainnya Sedangkan Waffen-SS adalah pasukan tempur biasa yang bertugas di garis depan. Waffen-SS secara de jure memang berada di bawah SS, namun secara de facto berada di bawah Oberkommando der Wehrmacht (Pimpinan Tertinggi Angkatan Bersenjata). Garis komando dan penugasan lapangannya berada pada Oberbefehlshaber des Heeres (Panglima AD). Kompleksnya struktur organisasi Nazi baik di awal berdirinya maupun di kemudian hari saat berkuasa, adalah akibat langsung Treaty of Versailles yang mencekik Jerman.

Terbentuknya SS dan Waffen-SS
Awal mulanya Waffen-SS tidak terlepas dari terbentuknya Stosstruppe Adolf Hitler (SAH) pada Maret 1923 sebagai pelindung pribadi Hitler selama perjalanan dinas untuk keperluan partai. Anggota awal SAH berjumlah 12 orang. Seluruhnya merupakan mantan serdadu Stosstruppe (pasukan elit penyerang di PD I) dengan Julius Schreck sebagai penggagas sekaligus pimpinannya. Selain itu SAH dibentuk atas kekhawatiran Hitler terhadap berkembang pesatnya Sturmabteilung (SA) di bawah komando Ernst Röhm. Mereka berisikan, selain mantan serdadu reguler PD I dan Freikorps, juga preman, pemabuk dan bandit jalanan!

Pada bulan November 1923, karena kudeta dengan unjuk kekuatan yang gagal, SAH dibubarkan. Röhm melarikan diri ke Argentina dan SA dipimpin sementara oleh Heinrich Himmler.

Setelah Hitler keluar dari penjara, sebagai pengganti SAH dibentuklah Schutzstaffel (SS) dibawah administrasi SA pada 1925 dengan Julius Schreck sebagai Standartenführer (setara kolonel) yang pertama. Nama SS (kesatuan pelindung) sendiri adalah pemberian Hermann Göring dari nama sebuah format skadron udara untuk pelindung intai udara dalam PD I.

SS sendiri adalah pengulangan sejarah dari Praetorian Guard yang dibentuk Kaisar Oktavianus Augustus pada 35 SM sebelum ia menjadi kaisar pertama Romawi. Praetorian dibentuk Oktavianus untuk melindungi dirinya dari serangan saingan utamanya Markus Antonius serta Senat dan para bangsawan pendukungnya. Bentuk kesamaan yang sangat jelas setelah Oktavianus menjadi Kaisar tahun 27 SM, Praetorian berkembang menjadi kekuatan politik dan birokrasi. Organisasi ini menguasai Kekaisaran dan ikut menentukan jalannya pemerintahan serta menentukan siapa yang berhak menjadi Kaisar Romawi. Ini berlaku selama kurang lebih 300 tahun. Perbedaannya, SS hanya menguasai politik dan birokrasi Jerman selama 12 tahun. Bentuk pengabdian kepada pemimpin dan negara, hormat ala Romawi, parade kemenangan atau lautan obor di keheningan malam adalah banyak faktor yang ditiru Nazi dan SS dari Kekaisaran Romawi dan Praetorian. Terlebih Himmler adalah pengagum berat Kekaisaran Romawi dan Jerman. Seperti risalah Napoleon Bonaparte: l’Histoire la repetee (sejarah akan berulang atau sengaja diulang).

Tidak dapat dipungkiri, dengan naiknya Himmler “si peternak ayam” sebagai Reichsführer-SS pada 16 Januari 1929, SS justru berkembang makin pesat. SS diisi orang-orang pintar sebagai motor penggerak partai dan bergerak di segala bidang pemerintahan dan politik. Hal ini berkembang sejalan mulai masuknya modal asing (Inggris dan AS) ke tubuh partai. Pemodal mensponsori pergerakan Nazi dan menyuntikkan dana untuk industri militer Jerman, termasuk riset dan pengembangan. Jerman terkenal dengan Inovasi teknologinya. Produk-produknya terkenal dengan kualitas terbaik.

Dengan naiknya Hitler sebagai Kanselir Jerman 30 Januari 1933, tugas dan wewenang atas keamanan negara kemudian jatuh kepada SS, khususnya Himmler Pada 9 Juni 1934, Himmler membentuk satuan pengamanan khusus dan rahasia yaitu Sicherheitsdienst (SD). Unit ini dikomandani SS-Obergruppenführer (setara Letnan jenderal) Reinhard Heydrich yang merupakan keturunan Yahudi dan dikenal sebagai pencipta final solution!

Selanjutnya pada bulan Juni 1936, sembilan hari seteleh Himmler ditunjuk sebagai kepala kepolisian negara, dia mengeluarkan ketetapan dengan membagi dua tugas dan fungsi kepolisian yang telah berada di bawah SS: Ordnungspolizei (polisi reguler dan berseragam) dan Sicherheitspolizei (polisi pengamanan, rahasia dan tidak berseragam).

Di bawah Sicherheitspolizei terbentuk satuan polisi dengan spesialisasi masing-masing, yaitu Kripo (polisi untuk kejahatan atas negara) dan Gestapo (polisi untuk tugas rahasia negara). Penataan ini makin membedakan antara unit-unit di dalam SS dengan Waffen-SS dikemudian hari.

Tugas-tugas khusus seperti mengatasi “problem dan pengaruh Yahudi, Slav, kaum Bolsewik dan komunis” pun jatuh kepada SS dari kepolisian yaitu Kripo, Gestapo dan SD, sementara yang di lapangan terbentuk satuan khusus Einsatzgruppen untuk misi teror dan membantu final solution. Organisasi, kesatuan dan anggota yang bergabung di dalam kepolisian khususnya Sicherheitspolizei, SD dan Einsatzgruppen inilah yang terbanyak melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Pengakuan atas Waffen-SS
Di saat Nazi mulai mengikuti perebutan kursi pemerintahan secara legal melalui pemilu tahun 1928, Hitler kembali menginginkan adanya unit elit yang bersih. Anggota unit harus diseleksi secara ketat, tidak memiliki catatan kriminal, dan asli keturunan Jerman yang bisa dibuktikan sampai abad ke 18! Tindakan Hitler tersebut sebagai bentuk kekhawatirannya melihat pertumbuhan SA yang semakin liar dengan jumlah milisinya yang mencapai tiga juta.

Selain itu Röhm dan pendukungnya melakukan manuver dan mempunyai keinginan. Yakni melakukan gerakan tandingan di kepartaian dan membuat partai baru, menginginkan SA dipersenjatai dan sebagai tentara rakyat saat Nazi muncul di tampuk pemerintahan Jerman serta sebagai menteri pertahanan saat Nazi berkuasa.

Hitler kemudian menemui SS-Gruppenführer Josef Dietrich. Mantan sersan awak tank PD I Schwere Kampfwagen A7V, penerima Iron Cross kelas 1 dan kawan lama Hitler sewaktu baru bergabung ke NSDAP diperintahkannya mengambil langkah penting, meliputi pembentukan SS-Stabswache Berlin dan SS-Sonderkommando Juteborg di musim semi 1933. Keduanya pada April 1933 memperoleh pendidikan calon perwira di Institut Lichterfelde-Berlin selama dua bulan, dan kemudian llantas digabung dan dinamakan sebagai Adolf Hitler Standarte (setara resimen) pada 3 September 1933. Namanya diubah kembali Leibstandarte Adolf Hitler pada November 1933. Leibstandarte SS Adolf Hitler (SS-LAH) di April 1934, dan beranggotakan 1.000 orang dalam tujuh kompi (setara satu resimen).

Awalnya pasukan ini adalah unit kawal pribadi, terutama saat perjalanan dinas, unit jaga Reichstag, unit jaga di Berchtesgaden Bavaria, unjuk kemahiran senjata, seremonial dan pasukan parade. Di tahun tersebut, Dietrich berhasil menjadikan SS-LAH sebagai military formation dan meredam usaha Himmler untuk menjadikan SS-LAH sebagai political formation. Kembali pada 1934, Hitler menginginkan dibentuknya sebuah pasukan cadangan khusus (special purpose trupp) yang selanjutnya dinamakan SS-Verfugungstruppe (SS-VT).

Melalui Himmler pada November 1934, Paul Hausser ditunjuk sebagai inspektur SS-Junkerschule di Bad Tolz dan Braunschweig menjadi pusat pelatihan perwira dan boot-camp Waffen-SS. Ia seorang pensiunan Reichswehr tahun 1932 berpangkat Generalleutnant dan veteran kolonel PD I yang pernah bertugas di Stosstruppe dan General Staff. Selanjutnya dikarenakan permintaan yang terus meningkat akibat berkecamuknya perang, didirikan lagi dua tempat pelatihan perwira di Klagenfurt dan Praha.

Sedangkan untuk pusat pelatihan NCO (bintara) yaitu SS-Unterführerschulen, terdapat di Lauenberg dan Radolfzell. Selama berkecamuknya perang, pusat pelatihan NCO di didirikan juga di tiga daerah lainnya di Laibach, Lublinitz dan PosenTreskau.

Hausser kemudian membentuk dan melatih SS-VT dan SS-LAH dibantu Felix Steiner (veteran Stosstruppe). Juga ada Cassius Freiher von Montigny (veteran kapten U-boat PD I) yang kemudian menciptakan pola rekrutmen, doktrin tempur, spesialisasi kesatuan bersenjata, kurikulum dan program pelatihan baik teori maupun praktik untuk Waffen-SS.

Pada 16 Maret 1935, Hitler berpidato di Reichstag dan mengumumkan kepada dunia bahwa Jerman akan memperkenalkan kembali mobilisasi militer yang secara otomatis melanggar Treaty of Versailles. Ia berniat membentuk angkatan bersenjata berkekuatan 36 divisi. Di hari yang sama Hitler mengeluarkan deklarasi bahwa SS-Verfügungstruppe akan menjadi format militer dan cikal bakal sebuah divisi SS dikemudian hari.

Pidato Hitler pada 1935 untuk menjadikan SS-VT sebagai format militer meresahkan petinggi militer. Sebab salah satu perjanjian rahasia Hitler dengan Reicshwehr selain menyingkirkan SA dan Röhm, adalah Wehrmacht (pengganti Reichswehr) sebagai kuasa mutlak pemegang senjata (Waffenträger) setelah Hitler dan Nazi naik ke pucuk pemerintahan Jerman.

Cara Jerman lainnya menolak Treaty 1936 yaitu dengan mengirimkan pasukannya kembali ke Rhineland. Sebagai ujung tombak pasukan Jerman adalah SS-LAH rang dipergunakan sebagai tumbal atau percobaan, karena kemungkinan Prancis akan melawan. Selain dua kesatuan cikal bakal Waffen-SS tersebut, berjalan pula sebuah kesatuan yang awalnya bertugas sebagai pasukan penjaga kamp konsentrasi tawanan politik sebelum pecah perang, yaitu SS-Totenkopfverbande (SS-TKV) atau Detasemen Tengkorak yang telah terbentuk di penghujung 1933 di Dachau dibawah pimpinan SS-Standartenführer Theodor Eicke. Tahun berikutnya, saat “malam pisau panjang” 30 Juni 1934, SS-TKV bersama SS-LAH memperoleh keistimewaan sebagai algoio dan regu tembak untuk melenyapkan pucuk pimpinan SA yang harus disingkirkan. Atas keberhasilan tugasnya, Eicke dan SS-TKV memperoleh bonus. Eicke dinaikkan pangkatnya menjadi SS-Brigadeführer (setara mayor jenderal) dan SS-TKV dikeluarkan dari wewenang dan tanggungjawab SS.

Pada 1 April 1936, keluar ketetapan bahwa Verfügungstruppe (termasuk SS-LAH) dan Totenkopfverbande, secara hukum memiliki status sebagai “organisasi yang memberikan pelayanan untuk negara”. Sejak itu ditempatkan dalam anggaran kepolisian di bawah Kementerian Dalam Negeri.

Eicke selanjutnya melakukan manuver agar kesatuannya memperoleh pendidikan tempur selain tugas rutin menjaga kamp konsentrasi. Terbentuklah kemudian beberapa batalyon siap tempur yang sudah tidak memiliki tugas jaga lagi di awal 1939. Kemudian beberapa batalyon tersebut diperbesar sehingga berkekuatan setara beberapa resimen. Tahun 1938 sebelum pecah perang dunia, SS-TKV bersama SS-VT memperoleh kesempatan dan bertugas sebagai ujung tombak untuk memasuki Sudentenland, anschluss Austria dan Cekoslowakia.

Walaupun telah menjadi format militer. Totenkopf masih dipandang sebelah mata oleh Werhrmacht. Anggapannya, mereka hanyalah sipir dan penjaga kamp konsentrasi yang sudah dipersenjatai namun tidak memiliki keterampilan militer memadai!

Setelah terjun dalam operasi militer di Polandia pada 1 September 1939, yang juga sebagai awal perang dunia II setelah Inggris dan Prancis mendeklarasikan perang terhadap Jerman pada 3 September 1939, Eicke mendapat persetujuan dari Hitler untuk mengubah fungsi dan nama kesatuan ini menjadi SS-Totenkopf Division. Pasukan ini berjumlah 14.000 personel infanteri namun tidak berkendaraan motor. Tugas menjaga kamp konsentrasi selanjutnya diserahkan kepada Allgemeine-SS yang kemudian secara permanen membentuk Totenkopfwachtsturmbanne (batalyon penjaga tengkorak).

Sampai awal 1938, kesatuan SS bersenjata (yang kemudian dikenal sebagai Waffen-SS) diperkuat oleh 38.000 personel. Mereka dipecah dalam beberapa kesatuan. Terdiri dari Leibstandarte SS Adolf Hitler (setara resimen), SS-Standarte Deutschland (setara resimen), SS-Standarte Germania (setara resimen), SS-Standarte Der Führer (setara resimen), SS-Nachrichtensturmbann (setara batalyon sandi), SS-Pioniersturmbann (setara batalyon pelopor), SS-Sturmbann Nürnberg (setara batalyon), SS-Junkerschulen (pusat pendidikan perwira), SS-Unterführerschulen (pusat pendidikan bintara), SS-Inspektion (inspektorat), SS-Sanitatsabteilung (setara batalyon kesehatan), SS-Totenkopfstandarte Oberbayern (setara resimen), SS-Totenkopfstandarte Brandenburg (setara resimen) dan SS-Totenkopf standarte Thuringen (setara resimen).

Kesatuan SS bersenjata ini telah memiliki format militer Seperti SS-Standarte setara Regiment di Wehrmacht, SS-Sturmbann setara Bataillon di Wehrmacht. Juga pelatihan yang diberikan Hausser sejalan dengan konsep pelatihan militer di Wehrmacht, khususnya Heer.

Wehrmacht vs Waffen-SS
Selama tiga tahun setelah pidato Hitler, gesekan terbuka dan saling curiga antara SS dengan Wehrmacht makin meruncing terutama antara Himmler dan para petinggi militer. Wehrmacht merasa tidak perlu mempersenjatai dan memberikan pendidikan militer kepada organisasi politik terutama satgas partainya. Selain itu Werhmacht cukup bangga dengan statusnya sebagai pemegang kuasa tunggal atas senjata dan tugasnya untuk mempertahankan negara.

Untuk meredam masalah yang meruncing dan timbulnya saling curiga antara Wehrmacht dengan SS, pada 17 Agustus 1938 Hitler mengeluarkan ketetapan sebagai berikut:

  1. Fungsi dan tugas SS adalah urusan politik dan tidak diperlukan keterampilan serta pelatihan militer
  2. SS-LAH, SS-VT dan SS-TKV yang menjadi military formation dikecualikan dari ketetapan ini, kesatuan SS bersenjata bukan bagian Wehrmacht dan juga bukan bagian SS dan kepolisian, tetapi didefinisikan sebagai kesatuan berdiri sendiri untuk keperluan der Führer.
  3. Secara formal kesatuan SS bersenjata diperbolehkan merekrut langsung untuk mobilisasi militer dan personel yang bergabung ke dalam kesatuan ini, secara resmi dianggap menunaikan tugas negara.
  4. Sepanjang mobilisasi dan kegunaannya di masa perang, kesatuan SS bersenjata berada di bawah AD dan mendapat perintah langsung dari Oberbefehlshaber des Heeres (Panglima AD).
  5. Kesatuan SS bersenjata tunduk pada hukum dan peraturan militer.
  6. Anggaran dan administrasinya tetap berada pada kepolisian dan SS (slip gaji dari SS), wewenang persenjataan dan perlengkapan ada pada Wehrmacht.

Mulai 26 Agustus 1938, anggota SSLAH, SS-VT dan SS-TKV menerima sistem balas jasa sesuai peraturan yang diterima anggota Wehrmacht. Satu bulan setelah ketetapan yang dikeluarkan Hitler, pada 17 September 1938 Oberkommando der Wehrmacht mengeluarkan ketetapan susulan. Berikut isinya:
  1. Anggota kesatuan SS bersenjata dianggap bagian dari Heer selama periode kesatuan SS bersenjata di mobilisasi untuk tujuan militer dan berada di bawah perintah dan pengawasan Heer.
  2. Anggota kesatuan SS bersenjata memiliki hak dan kewajiban setara yang dimiliki serdadu dan perwira Wehrmacht.
  3. Seluruh kesatuan dari Wehrmacht berkewajiban secara militer bermanuver bersama kesatuan SS bersenjata. Begitu pula kegiatan olahraga atau lainnya di luar tugas yang berguna untuk menjalin proses asimilasi dari kesatuan SS bersenjata ke dalam format militer
Ketetapan selanjutnya dikeluarkan Hitler 18 Mei 1939. Ini merupakan langkah akhir yang diperlukan dalam membentuk format militer secara penuh untuk SS-VT menjadi divisi SS yang lengkap dengan unit-unit pendukung. Seperti artileri, unit intai dan pelopor, antitank dan unit antiserangan udara. Sedangkan SS-LAH di upgraded sebagai kesatuan bermotor namun tetap dalam format regiment. Sedangkan tiga resimen dari SS-TKV disiapkan sebagai SS-Totenkopf Division. Kemudian sebagian anggota Ordnungspolizei (polisi berseragam) mulai direkrut untuk membentuk sebuah divisi polisi lapangan (SS-Polizei Division).

Maka secara anggaran dasar dan format militer, semuanya telah terbentuk. Hanya masalah nama yang belum ada dan diakui secara luas untuk kesatuan SS bersenjata.

Akhirnya 7 Oktober 1939, Wehrmacht secara resmi mengakui perubahan nama dan penggabungan SS-LAH, SS-VT dan SSTKV menjadi Waffen-SS. Satu bulan kemudian keluar ketetapan Himmler. Ia mengkonfirmasikan bahwa Waffen-SS terdiri dari: Leibstandarte SS Adolf Hitler (masih sebesar regiment, terbentuk division pada 1942), SS-Verfugungs Division, SS-Totenkopf Division, SS-Polizei Division, SS-Junkerschulen, SS-Unterfuhrerschulen dan SS-Totenkopfstandarten (resimen SS-TKV yang belum terserap ke divisi).

Bentuk kesatuan Waffen-SS saat itu tipikal komponen dasar sebuah divisi infanteri dengan kesatuan infanteri di dalamnya, memiliki unit intai, pelopor, zeni, unit sandi, perhubungan dan kesehatan. Walau berkekuatan divisi, mayoritas pengiriman perbekalan, perhubungan dan pergerakan meriam lapangan masih menggunakan kereta ditarik kuda. Inilah cerminan militer Jerman sesungguhnya.

Di permulaan perang 1939, ketika operasi militer ke Polandia (Fall Weiss), SSLAH telah memiliki keterampilan militer dan dipersenjatai cukup. Hanya ukurannya masih sebesarregiment yaitu dalam bentuk Motorized Infantry Regiment. Sedangkan SS-VT yang telah berada dalam bentuk sesungguhnya yaitu division. Namun saat di Polandia mereka tidak bertempur dalam satu kesatuan, melainkan disebar pada beberapa kesatuan Heer. Begitu pula SSTKV yang telah berbentuk divisi masih berjuang untuk pembuktian dan mendapatkan identitas diri Oleh Heer disebar pula pada beberapa kesatuan dan juga diremehkan kemampuannya.

Dipersenjatainya Waffen-SS sempat menjadi polemik keras antara pentinggi Waffen-SS dengan Wehmacht.

Dalam hal senjata, Waffen-SS hanya memperoleh senjata kategori usang seperti peninggalan PD I atau buatan Ceko yang ‘anggap kelas dua. Perlakuan separuh hati Heer lainnya adalah saat operasi militer di Polandia. Heer berusaha menghindar untuk tidak memberikan bantuan. Mulai dari ban:uan tembakan artileri untuk pergerakan, kendaraan bermotor serta amunisi tambahan dan peralatan yang dibutuhkan WaffenSS. Walaupun diremehkan dan tidak dibantu seperlunya oleh Heer, Waffen-SS tetap menunjukkan kemampuan terbaiknya dan membuka mata Wehrmacht.

Hitler atas prestasi gemilang dan keberanian Waffen-SS, menginstruksikan agar seluruh kesatuan Waffen-SS di upgraded menjadi kekuatan penuh Motorized Infantry Division (kecuali SS-LAH yang tetap regiment). Berarti pula Heer terpaksa membantu menyediakan peralatan yang dibutuhkan SS-TKV.

Sebelumnya mayoritas persenjataan dan peralatan yang dimiliki SS-TKV adalah campuran antara peralatan usang dan sitaan musuh. Termasuk usaha pribadi yang dilakukan komandannya Eicke dari mengemis, mencuri dan meminjam. Sewaktu General von Weichs dari Heer melakukan inspeksi ke barak-barak SS-TKV, dari sifat curiga dan meremehkan, berbalik menjadi terkesan dan menghargai apa yang telah dilakukan divisi ini.

Seleksi, pembinaan dan pelatihan “Such moves away from the political were inspired by SS Commanders such as Bavarian ex-Sergeant-Major Josef “Sepp” Dietrich, the commander of the Leibstandarte “Adolf Hitler”, Paul Hausser, the creator of the SS training schools, commander of the 2nd SS Panzer Division “Das Reich” and former Reichswehr field commander, and Felix Steiner, the commander of 5th SS Panzer Division “Wiking”, another veteran of the First World War. The Waffen-SS found itself under the command of the OKH rather than higher SS administration, and the field formations of theWaffen SS spent the entire war under the tactical command of the Army and thus maybe considered a de facto branch of the Wehrmacht”. Kesimpulan George H. Stein pengajar sejarah di State University of New York menerbitkan buku berjudul “Hitler’s Elite Guard at War, 1939 —1945″ merupakan buku pertama di luar Jerman dan komprehensif mengenai Waffen-SS di tahun 1965.

Tanggal 1 Oktober 1936 terbentuk inspektorat yang mengawasi dan menjalankan administrasi serta pelatihan militer dari SS-VT dan SS-LAH di dua sekolah perwira/ boot camp (SS-Junkerschule) yang telah berdiri. Keduanya yaitu di Bad Tolz dan Braunschweig. Inspektur dari organisasi baru ini adalah Paul Hausser, yang kemudian dikenal dan disebut seluruh anggota dari Waffen-SS sebagai “”Papa” Hausser. Ia sangat berjasa membentuk sebuah kesatuan yang awalnya minim pengetahuan militer, minim peralatan dan minim pengalaman. Namun bisa menjadi kesatuan elit yang disegani baik oleh kawan maupun lawan Selain itu, faktor personal Hausser yang memperoleh sebutan “Papa” karena kedekatannya pada bawahan dan lulusan SS-Junkerschulen yang dibentuknya.

Himmler mengumumkan bahwa tujuan pertama dari pembentukan sekolah, adalah membentuk korps perwira Verfugungstruppe. Kemampuannya harus setara dengan korps perwira Wehrmacht.

Di bawah sekolah bintara dan perwiranya Hausser, kemudian berkembang dan menghasilkan sistem pelatihan militer yang paling efisien selama PD II. Permasalahannya bagi Himmler bukan masalah kwalitas, tetapi kwantitas. Karena jumlah perwira yang diijinkan dilatih dibatasi oleh Wehrmacht, walau secara rahasia kuota itu dilanggar.

Mulai 1 Oktober 1937, melalui kedua sekolah perwira ini, setiap tahunnya dapat dihasilkan sekitar 400 perwira terdidik dan terlatih dalam waktu relatif singkat. Jumlah ini hanya mampu memenuhi kebutuhan tenaga perwira untuk Verfugungstruppe sebelum perang. Maka saat menielang perang maupun saat perang, aturan atau kuota diperlonggar dan juga dilanggar. Terlebih dengan makin terbuktinya kemampuan dan ketangguhan Waffen-SS di medan tempur.

Dalam membentuk tim instruktur yang solid dan peletak dasar program seleksi dan pelatihannya, Hausser selain dibantu Josef Dietrich juga dibantu beberapa orang. Ada Felix Steiner dan Cassius Freiher von Montigny.

Untuk bergabung dengan Waffen-SS, calon harus melewati persyaratan yang cukup ketat. Setelah diterima, pelatihan dasar militer menghabiskan waktu tiga bulan yang diterapkan sebagai masa percobaan intensif. Ada tiga sasaran utamanya: ketahanan fisik, andal menggunakan senjata ringan dan memahami ideologi. Pelatihan dasar sangat ketat dan intensif, terutama untuk fisik dan untuk bertegur sapa walaupun atasan saat di luar dinas. Inilah fakta yang sangat berbeda dari Wehrmacht.

Hal lainnya dalam keseharian seperti lemari pribadi baik perwira, bintara dan tamtama, tidak memiliki kunci. Bila ada pencurian dan pelakunya tertangkap, penerapan hukumannya sangat berat.

Untuk program ketahanan fisik, di Heer olah raga dilakukan di waktu senggang atau diluar program pendidikan. Sedangkanbagi Waffen-SS, olahraga adalah keharusan dan masuk program pendidikan. Rutinitas ini _anus dilakukan setiap hari secara bersamaan antara perwira, bintara dan tamtama. Baik saat program pendidikan maupun di barak. Olahraga seperti tinju, atletik, renang, dayung serta olahraga lapangan yang memerlukan kerjasama tim seperti sepak bola dan bola keranjang, adalah santapan harian.

Program olahraga dan keseharian seperti ini selain membentuk fisik yang prima juga pembentukan karakter sesama anggota. Mereka akan merasa sebagai satu keluarga dari kesatuan elit yang memiliki hubungan erat, saling menghargai dan saling percaya. Secara umum ini sulit didapat di Wehrmacht khususnya Heer.

Bila teori kepemimpinannya telah dikuasai, akan dipraktikan. Antara lain Auftragstaktik (mission-type tactics), yaitu komandan memberikan arahan yang jelas dan dimengerti sepenuhnya oleh pimpinan bawahannya (sampai pada tingkatan NCO). Selanjutnya pimpinan bawahan menjalankan perintah secara independen, memiliki inisiatif dan bebas melaksanakan perintah secara lebih flexibel. Dalam Auftragstaktik, pimpinan lebih tinggi terbebas dari taktik dan tingkatan yang lebih rinci untuk pelaksanaan di bawahnya.

Seorang perwira akan melewati latihan dasar bersama prajurit dalam kesatuannya. Teori dan praktik dilakukan dari tingkatan regu sampai batalion (basic fighting unit). Bawahan boleh mengoreksi dan memberikan pendapat yang dipandang perlu saat penerapan perintah berdasar situasi lapangan.

Auftragstaktik yang diterapkan Waff en-SS baik dalam pelatihan teori maupun praktik, mengungguli kemampuan Wehrmacht atau angkatan bersenjata lainnya masa itu. Pelatihan maupun misi penugasan telah menjadi standar di seluruh angkatan bersenjata saat ini.

Doktrin Waffen-SS untuk aggresion akan dikombinasikan dengan konsep Auftragstaktik dan memiliki pertimbangan seperti ini bila dibandingkan dengan konsepnya Heer:

Kecenderungan menyerang agresif, cepat, disertai kebulatan tekad. Walau banyak memakan korban saat serangan awal justru akan mengurangi korban selanjutnya, karena target lebih cepat diselesaikan dalam waktu lebih pendek.

Kelambatan dalam menyerang dan kurang agresif, akan memberi banyak waktu bagi lawan mengatur pertahanan atau kemungkinan serangan balik, dan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan target akan lebih lama. Jumlah korban dalam pertarungan dengan waktu yang lebih lama bila diakumulasikan sampai didapatnya target akan lebih banyak dari cara 1), akibat dari faktor moral si penyerang karena pertempurannya menghabiskan tenaga (war of attrition).

Ibaratnya dalam sebakbola, cara 1) dengan total football akan lebih cepat dalam mencetak gol dibanding catennacio yang bermain hati-hati dan lawan dapat melakukan serangan balik dan melelahkan seperti cara 2). Metode aggresion dengan pola menyerang agresif yang dilakukan Waffen-SS menimbulkan banyak kritikan dari Heer dengan alasan kemungkinan banyak korban.

Bila ditengok jumlah korban yang lebih tinggi dan dipersentasekan perbandingan antara korban dengan keseluruhan personel yang bergabung selama perang adalah: Waffen-SS 27 persen untuk personelnya yang tewas, luka dan hilang, sedangkan Heer 30 persen. Total personel Waffen-SS yang bergabung selama perang sekitar 920.000, sedangkan Heer sekitar 11.000.000.

Teori permainan dalam probabilitas Jan matematika juga dikembangkan di kelas-kelas dan dipraktikan di lapangan pada setiap tingkatan Gruppe (regu) dan Zug (peleton) oleh sang komandan beserta seluruh serdadunya.

Dilatih pula teknik menyerang dan bertahan dengan kombinasi yang dilatih. Mulai pada tingkatan regu untuk regu lainnya bermanuver seperti suppresing fire, covering fire, saturation fire yang dilakukan secara bersamaan dan menyentak. Dengan maksud lawan panik.

Hasil yang didapat dari teori/praktik matematika dan teknik penyerangan adalah banyaknya laporan tertulis dari peleton sekutu maupun Rusia saat pertempuran. Mereka mengaku tertunduk panik atau menjadi tawanan karena menghadapi serangan sistematis dan tembakan gencar dari peleton Waff en-SS.

Selain kelas teori permainan seperti matematika, perwira Waffen-SS dilatih melengkapi dirinya sebagai komandan tempur. Untuk itu mereka memperoleh kelas-kelas teori seperti keahlian mengolah strategi (baca peta, kemampuan kombinasi senjata dan pembinaan prajurit), keahlian membuat rencana pertempuran, sandi, keahlian komunikasi, pelatihan medik dan perhubungan. Kelaskelas teori ini juga mencetak perwira yang memiliki kemampuan kepemimpinan tinggi dan memberikan inspirasi kepada bawahannya untuk loyal.

Secara umum, pelatihan yang diberikan di SS-Junkerschulen sangat sukses. Sekolah berhasil mencetak komandan berkarakter dan comrades in arms antara atasan dan bawahan.

Dalam latihan digunakan live amunition. Hal ini juga menimbulkan kritik keras dari Heer karena menyalahi aturan keselamatan. Sebaliknya inspektur dan para petinggi Waffen-SS berpendapat bahwa ini adalah bagian dari latihan mental. Yaitu membiasakan dirimenghadapi perang sesungguhnya. Live amunition tidak hanya pada senapan biasa dan senapan mesin, juga untuk ternbakan artileri dan mortir. Pada latihan serangan, ledakan artileri dan mortir dilakukan pada rentang 50-70 m dari regu yang bermanuver.

Demonstrasi dilakukan di depan Hitler dan para petinggi Heer pada 1938. Demonstrasi militer yang tidak lazim dengan manuver berani di bawah hujan live amunition, justru membuat Hitler dan para petinggi Heer berdecak kagum dan sadar manfaatnya. Hal serupa mulai diterapkan pada kesatuan elit Heer.

Pelatihan lainnya yang sengaja untuk membentuk mental namun memiliki faktor kecelakaan tinggi, adalah “dilindas panzer”. Prajurit berbaring di lubang galiannya sendiri, lalu sebuah panzer akan melintas secara melintang. Latihan ini adalah untuk bertahan menghadapi panzer lawan dan melakukan serangan balik oleh Grenadier terhadap panzer menggunakan born tempel atau sejenisnya yang akan dipasangkan pada bokong atau tempat kelemahan panzer lainnya. Calon juga diberi sekop untuk menggali tanah seukuran tubuhnya dalam hitungan waktu, kemudian berbaring sembunyi dalam lubang tersebut dan dilalui panzer. Bila lubang galian cukup seukuran tubuhnya, panzer berlalu tidak akan menjadi masalah, namun bagaimana sebaliknya.

Selain latihan untuk mengasah kemampuan memimpin, olahraga, pembinaan karakter dan latihan tempur lainnya, Waffen-SS juga menerapkan latihan dasar baris berbaris. Berupa latihan kesabaran dan mengatur ritme pergerakan, umum disebut Parademarsch atau goose-step. Berbaris serasi dengan angkatan kaki yang tinggi namun perlahan, anggun namun berat atau berbaris dengan hentakan cepat berirama, yang keduanya membutuhkan fisik prima.

Seperti mottonya yang dijunjung tinggi, Meine Ehre Heißt Treue (Loyalty is My Honour), Waffen-SS memang sebuah legenda. Legenda tidak hanya karena keberaniannya, tapi juga banyak menginspirasi militer sedunia untuk mengadopsi doktrin dan tata organisasi tempurnya.


Sumber :
www.scenicreflections.com
www.sejarahperang.com